Semasa SMP, dunia saya berpusat pada ruang berukuran 5x7 meter di ujung gedung sekolah. Ya, perpustakaan selalu menjadi tempat singgah saya kala istirahat. Salah satu alasannya karena ruang kelas saya yang berada persis di sebelah perpustakaan, jadi saya lebih memilih perpustakaan daripada kantin yang letaknya jauh dari kelas.
Tapi selain letak yang dekat, saya jatuh cinta pada buku-buku yang berjajar di rak buku belakang perpustakaan. Karya-karya cerdas dari Idrus, Aman Datuk Modjoindo, dan Marah Rusli. Bahasa yang disampaikan berbeda jauh dengan bahasa percakapan sekarang. Bukan hanya karena novel itu menggunakan tata bahasa lama, tapi cara buku itu menyampaikan pesan lewat ceritanya lah yang membuat saya tidak bisa berhenti membaca karya sastra yang lain.
Kecintaan terhadap sastra dan jurnalistik terus ada hingga saya SMA, hingga akhirnya saya memilih masuk jurusan Bahasa di SMA. Kenapa? Karena saya mau jadi wartawan dan saya mau tahu lebih banyak soal sastra.
Saya tahu, saya masuk ke Bahasa dengan sebuah sedikit ketidakpuasan di orang tua saya, Karena Ayah saya mau saya masuk IPA dan Ibu saya mau saya masuk IPS. Dan saya tetap ngotot masuk Bahasa, karena saya tahu kemampuan diri saya. Saya tidak pandai berhitung dengan rumus fisika, mengingat banyak tanggal sejarah. Saya hanya mampu bermain dengan kata.
Di Bahasa saya belajar beberapa bahasa. Dan yang menyenangkan saya mengenal sastra lebih jauh, mulai dari sastra angkatan 20-an hingga perkembangan sastra kini. Dan dari semua itu, saya menyukai sastra angkatan 66. Suasan perjuangan yang muncul benar-benar terasa di karya sastra angkatan itu.
Dan Taufiq Ismail menjadi idola saya. Puisinya singkat namun membuat saya merenung banyak. Kritik dari Taufiq Ismail semuanya tertuang lewat puisinya. Salah satu puisinya, "Sebesar-besar, Setinggi-tinggi" disampaikan singkat dengan bahasa yang ringan dan membuat saya tersenyum geli sekaligus berkata dalam hati "Beliau benar, masyarakat kita terlalu memuja orang".
Sebesar-besar, Setinggi-tinggi
“Kami mengucapkan terima kasih Sebesar-besarnya, dan Setinggi-tingginya Kepada Bapak Bupati Yang telah berkenan Membantu desa kami.”Di luar, di bawah jendela aula Seorang murid SD kelas enam berkata “Terima kasihnya Untuk Tuhan tidak tersisa.”
1998
Saat SMA itu pula, kelas sastra di Bahasa menggelar pertunjukan musikalisasi puisi dan drama monolog. Dharma Wanita karya Taufiq Ismail saya mainkan untuk drama monolog. Saya memakai pakaian Dharma Wanita, bermonolog di hadapan puluhan mata yang menyaksikan saya bermonolog di tengah sekolah. Saya keluarkan perasaan Taufiq Ismail terhadap Dharma Wanita ini.
Sedangkan musikalisasi puisi, saya membawakan Harmoni milik Taufiq Ismail dengan iringan gitar dari teman saya. Pakaian yang saya pakai saat itu adalah milik nenek saya ketika muda dulu. Ya, saya seperti layaknya di tahun 1960an.
Tak hanya puisi Taufiq Ismail, saya berkenalan juga dengan karya sastra lain milih Sutan Takdir Alisjahbana, Merari Siregar, Buya Hamka, Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, Ahdiat Karta Mihardja, Nh Dini, Chairil Anwar, Sutardji Calozoum Bachri, dan Supardi Djoko Darmono.
Hampir setiap waktu kosong di sekolah, saya habiskan di perpustakaan. Istirahat, jam pelajaran kosong, atau bahkan setelah pulang sekolah saya sering beredar di perpustakaan. Apalagi kalau bukan mencari buku-buku sastra dan membacanya. Tak heran bila 6 tahun setelah saya lulus dan kembali ke SMA, penjaga perpus masih saja hapal dengan saya.
Masuk kuliah, saya lebih memilih ke Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, demi bisa kuliah di jurusan idaman: Jurnalistik. Sekaligus di jurusan ini saya masih bisa belajar nulis dan juga ikut nulis.
Dan satu hal yang paling berkesan dan paling memorable adalah saat tugas kuliah Feature Cetak. Sang dosen memberi tugas kalau kami para mahasiswa harus mewawancarai seorang tokoh dan membuat tulisan tentang perjalanan hidup sang tokoh.
Satu nama tokoh yang terlintas di kepala saya saat dosen kasih tugas adalah sang idola, Taufiq Ismail. Dan ternyata nama Taufiq Ismail untuk usulan tulisan tugas saya disetujui sang dosen. Betapa senangnya saya. Maka dengan berbekal semangat 45, saya googling cari kontak dan alamat rumah Taufiq Ismail.
Hal yang paling mendebarkan adalah saat menelpon beliau dan bikin janji untuk wawancara. Tepat saat selesai telpon, saya teriak ke teman saya "Ya ampun, gw baru telponan sama idola gw!!" Well, so silly sih tapi itu beneran paling bikin bahagia.
Hari wawancara dengan Taufiq Ismail tiba, dan saya cuma punya waktu sekitar 1,5 jam untuk ngobrol dengan beliau. Beliau cerita banyak tentang masa kecilnya, tentang bagaimana dia menyukai puisi, dan harapannya. Nanti saya upload deh tulisan saya tentang beliau. Dan sayangnya, di tengah obrolan, beliau harus segera pergi untuk menengok kerabatnya yang sakit. Jadilah obrolan terhenti pukul 9 pagi.
Sampai sekarang, saya masih menjadi penikmat sastra. Saya masih menulis tapi masih untuk diri sendiri. Mungkin nanti saat tulisan saya menjadi jauh lebih baik saya akan berbagi. Dan setuju dengan pendapat Taufiq Ismail, seharusnya pelajar mendapatkan mata pelajaran sastra, agar mereka mengenal sejarah lewat sastra juga makin Indonesia dengan sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar